Archive for seni budaya indonesia

Angklung Indonesia

Saung Angklung Mang Udjo

1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik.

Samu adalah kepanjangan dari Saung Mang Udjo. Saung  yang terletak di Jl. Padasuka 118, Bandung  ini didirikan sejak 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiyati sebagai sanggar seni , tempat pertunjukan, tempat pendidikan budaya sekaligus sebagai objek wisata andalan Jawa Barat. Sesuai amanat Daeng Soetikna untuk memperkenalkan angklung ke seluruh dunia maka angklung merupakan produk budaya yang dikembangkan oleh saung ini.

Saung ini dibuka untuk pengunjung mulai dari jam 15.30 hingga 17.30 wib, dengan tiket masuk sebesar Rp 50.000,-. Setelah membayar tiket, kita akan mendapat brosur/katalog yang menjelaskan pertunjukan yang akan kita saksikan, seuntai kalung dengan liontin angklung, dan sebotol soft drink.

Sore itu, saat kami bertiga masuk, pertunjukan sudah setengah dimulai. Saat itu, wayang golek sedang dipertunjukkan. Pertunjukan ini merupakan sajian pembuka. Di tengah pertunjukan, selubung meja di depan dalang pun dibuka untuk menjelaskan bagaimanakah caranya dalang memainkan wayangnya. Wayang ini pun dimainkan dengan iringan angklung dan beberapa alat tambahan seperti kendang, dst.

Setelah itu, mc, seorang anak muda yang menggunakan celana batik dan selendang batik memperkenalkan pertunjukan berikutnya yang disebut Arumba, alunan serumpun bambu. Arumba ini digunakan sebagai helaran untuk mengiringi acara semacam khitanan (sisingaan) dan tarian kuda (kalo di Jawa disebut jathilan). MC tersebut membawakan acara dengan bahasa Inggris, mengingat tampak beberapa wisatawan asing yang hadir di sore itu. Di tangan wisatawan asing tersebut, tampak tergenggam katalog dalam bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa saung ini dikelola cukup profesional sebagai objek wisata.

Helaran disajikan untuk mengiringi pertunjukan sisingaan, yaitu pertunjukan di mana anak yang khitan dinaikkan dalam patung singa untuk kemudian diarak keliling kampung. Pertunjukan ini dikuti banyak anak dan remaja. Mereka menari dan berkeliling panggung dengan iringan angklung yang bernada gembira.

Sisingaan dengan iringan helaran

Sisingaan dengan iringan helaran

Tampak banyak anak kecil yang diikutsertakan dalam pertunjukan ini. Sesuai dengan umurnya, maka mereka  pun bergerak seenaknya, di luar pakem  saat latihan. Khas anak-anak memang dan ini justru menarik simpati dari pengunjung. Ada kalanya mereka justru maju saat teman yang lain mundur, ada kalanya mereka dengan santainya menarik dan melorotkan  rok batiknya, ada kalanya mereka bahkan berantem dengan sesamanya. Khas anak-anak. Meski demikian, hal ini tidak merusak pertunjukan justru malah mengesankan kealamiannya. Tak jarang kan kita temui dalam berbagai pertunjukan, anak-anak harus berlaku dewasa, harus menampilkan kesempurnaan dalam penampilannya. Namun hal ini tak tercermin dalam pertunjukan sore itu. Anak -anak tetap menampilkan mereka dalam diri sesungguhnya, sesuai usianya.

Setelah sesi helaran tersebut, disusul dengan pertunjukan tari topeng. Tari topeng adalah tari khas Cirebon. Tari ini dibawakan oleh dua remaja, yang kebetulan adalah kembar. Satu yang unik dari tarian ini adalah topeng tidak dilekatkan dengan tali namun digigit dengan mulut. Hampir sama dengan reog Ponorogo.

Berikutnya adalah tari Jaipong dengan iringan angklung. Jaipongan adalah tarian khas Sunda. Selama ini jaipong yang kita tahu adalah jaipong  dengan iringan gamelan. Namun di SAMU,  jaipongan ini bisa juga diiringi angklung. Tari ini dibawakan oleh 3 remaja putri.

Belajar angklung dari Mr.Udjo Jr. Gambar dok.pribadi

Belajar angklung dari Mr.Udjo Jr. Gambar dok.pribadi

Setelah pertunjukan tersebut, tibalah saat belajar angklung bersama, dengan instruktur sang pemilik saung, yaitu Mang Udjo jr. Muncullah beberapa anak membawa angklung untuk dibagikan kepada para penonton. Masing-masing angklung bernada berbeda, dari do hingga do tinggi. dengan demikian, penonton terbagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tangga nada. Kebetulan aku dan ketiga temanku mendapat angklung bernada la. Tidak beruntung, karena dalam berbagai komposisi yang dimainkan, tidak banyak nada la. Di awal, Mang Udjo jr memberikan tips bagaimana cara memegang dan menggetarkan angklungnya. Kemudian, dia memberikan kode kepada masing-masing kelompok, kapan angklung nada do harus digerakkan, kapan re harus digetarkan, dan demikian seterusnya. Setelah mencoba beberapa saat, mulailah kami memainkan beberapa komposisi, dengan panduan kode tangan dari Mang Udjo Jr. Maka, mengalunkan lagu burung kakak tua, I have a dream dan seterusnya dari saung itu. Dan sensasi yang menyenangkan bagi kami, para penonton, yang sebagian besar belum pernah memegang angklung apalagi memainkannya. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan !

Selanjutnya, sesi terakhir, penutupan diisi dengan menari bersama. Sayangnya, dan sayangnya, penonton yang diajak untuk menari bersama dengan anak-anak tersebut dominan wisatawan asing, sementara yang domestik seperti kami ini dilewatkan.  Hiks, padahal kami sudah siap lho, mengenang kembali masa anak-anak, menari-nari dengan iringan angklung.. :-)

Setelah itu, kami pun beranjak ke toko souvenir yang ada di bagian depan saung. Di dalamnya, menjual berbagai macam souvenir, mulai dari kaos, blangkon, kain batik, miniatur wayang golek dan tidak lupa juga angklung !

Setelah puas mengubek-ubek souvenir, kami pun beranjak pulang. Tak lupa pula mengambil foto di luar saung. Menjelang magrib, kami berjalan ke pertigaan Padasuka untuk mencari angkot, meneruskan perjalanan untuk menikmati senja di gedung sate. What a nice visit..

Note: Satu masukan saya untuk pengelola toko souvenir SAMU, bagaimana jika pembungkus plastik untuk souvenirnya diganti dengan kantong kertas. Sekaligus untuk membangun citra green juga kan.. selaras dengan produk budaya yang mereka angkat, angklung, yang juga berasal dari alam :-)

Batik Indonesia

Batik dan Semangat Berbagi Atas Kebanggaan Milik Kita
Andi Boediman
| 20 November 2009 | 13:54
422
3

1 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif.
We don’t need Malaysia as our common enemy, we need our common purpose to appreciate and cultivate our culture for the future!

Tahun ini merupakan kebangkitan dari Batik Indonesia. Munculnya kebanggaan atas warisan bangsa ini dipicu oleh negara tetangga yang beberapa saat lalu melakukan klaim atas budaya Melayu. Munculnya kesadaran atas warisan tidaklah cukup, perlu adanya terobosan agar budaya kita menjadi relevan kembali ke generasi muda yang memahami semangat zaman, dan dari merekalah lahir sesuatu yang baru.

Klaim Malaysia atas beberapa produk budaya Indonesia, memunculkan euphoria. Dan atas batik, Malaysia pun sedang melakukan pemetaan batik melayu untuk turut memperkaya khasanah batik dunia, itu positif.

Problem bangsa ini antara lain masalah kecintaannya terhadap apa yang telah dimiliki, ketika terjadi klaim negeri jiran atas produk budaya menyusul klaim mereka atas wilayah geografis, banyak energi terbuang untuk menciptakan musuh bersama bernama Malaysia yang kemudian diplesetkan sebagai Malingsia.

Menciptakan musuh bersama itu mudah, namun perlu dicatat, kita membutuhkan pihak lain, termasuk Malaysia dan bangsa lain untuk berbagi, misalnya ini lho batik saya. Sehingga batik semakin menemukan kekayaan ciri khas pencapaian seni dan estetika budaya bangsa-bangsa, dan menjadi milik bersama dengan identitas dan ciri khas Indonesia ada didalamnya, yang dunia akan mengetahuinya karena kita mau berbagi dengan mereka.

Terhadap batik, yang pada 2 Oktober 2009 ini dirayakan dalam Batik Day, hari Batik Nasional, bersamaan dengan pengakuan UNESCO atas Batik Indonesia sebagai artefak budaya warisan dunia, harus menjadi momentum kebangkitan batik Indonesia. Dan kita akan membangkitkan kembali dengan kebanggaan, bukan dengan ketakutan-ketakutan atas klaim oleh bangsa lain, toh batik menjadi milik dunia dengan masing-masing bangsa memiliki keunikan, ciri khas masing-masing termasuk Indonesia.

Momentum pengakuan batik Indonesia sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, mengingatkan pada implementasi atas gerakan Mahatma Gandhi dalam Swadhesi. Gerakan Swadeshi ini diserukan Mahatma Gandhi untuk melawan dominasi eropa yang dengan imperialisme dan kapitalismenya mengancam India hanya menjadi budak dan pasar. Mengambil pelajaran Swadeshi, inilah saatnya menyerukan kembali kecintaan terhadap produk dalam negeri. Membeli dan memakai batik Indonesia, batik lokal, adalah kontribusi bagi bangkitnya industri dan pasar batik dalam negeri yang di era pasar bebas ini harus bersaing dengan batik China dan sebagainya.

Madiba, adalah kebanggaan batik Afrika yang selalu dikenakan Nelson Mandela sebagai kepala Negara dalam setiap aktifitas formil non formil. Batik Indonesia, juga menemani Presiden Soeharto dalam setiap acara menerima tamu Negara dan lawatan luar negeri, bahkan mengirim surat resmi ke Bill Clinton untuk mengenakan batik Indonesia yang ia siapkan untuk konferensi APEC 1994 dan Clinton berkenan memakainya. Sampai begitu tingginya estetika batik, Prada, dilukis dengan tinta emas dan hanya bangsawan yang mampu memakainya.

Tinggal selanjutnya, melakukan berbagai upaya melestarikannya, tak hanya menjaganya memagari agar tak diklaim bangsa lain, tapi juga kreatif mengemasnya, bangga memakainya dan membuka diri terhadap dunia luar dengan komunikasi yang baik, agar tak sekedar terdengar gaungnya di seluruh dunia, tapi juga bernilai tambah ekonomi.

Mengutip statement saya @andisboediman di Twitter, kita perlu membangkitkan kesadaran atas produk budaya leluhur yang adiluhung dengan pondasi semangat kebanggaan dan mau berbagi, bukan atas dasar rasa benci, If we are driven by fear that our culture is stolen, we can only hate, but if we are driven by pride of what we had, we will have more to share!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.